Dewasa ini, kapasitas perempuan tak hanya diakui di ranah domestik namun juga dalam peran publik yang identik dengan dominasi kaum laki-laki. Terbukti, di masa krisis pandemi yang melumpuhkan ekonomi global bahkan menyebabkan perekonomian nasional turun kelas dari upper middle income pada 2020 ke lower middle income country pada 2021[1] perempuan hadir menjadi motor penggerak UMKM untuk menciptakan ketahanan ekonomi keluarga.
Perempuan mampu berdaya di tengah terpaan krisis sekaligus menjadi aktor penting dalam pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kendati memegang peranan signifikan namun perempuan masih dihadapkan pada sejumlah tantangan dalam improvisasi diri, terlebih di era yang serba digital ini.
Memahami Kesenjangan Digital Berbasis Gender di Indonesia
Konstruksi bias gender yang menyuburkan stigmatisasi terhadap peran perempuan dan laki-laki memperlebar jurang ketimpangan gender di Indonesia. Problematika ini berimplikasi pada tingkat kesenjangan digital berbasis gender yang semakin meminggirkan kompetensi perempuan di hadapan kecanggihan teknologi.
Berdasarkan Statistik Kesejahteraan Sosial tahun 2021 oleh BPS[2] Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas yang Memiliki HP secara Nasional menunjukkan angka 71,72% bagi laki-laki dan perempuan hanya 60,58%, begitu pula dalam Persentase Penduduk Berumur 5 Tahun ke Atas yang Mengakses Internet secara Nasional dimana laki-laki mencapai 65,05% dan perempuan 59,14%.
Ketimpangan juga terjadi pada tingkat literasi digital di Indonesia dimana 51,8% perempuan memiliki nilai indeks di bawah rata-rata nasional dan hanya 48,2% yang memiliki nilai indeks di atas rata-rata nasional, sementara proporsi laki-laki justru menunjukkan persentase sebaliknya.[3]
Kesenjangan digital gender di Indonesia semakin diperparah dengan rendahnya representasi perempuan dalam bidang STEM sejak jenjang pendidikan hingga dunia kerja profesional akibat kuatnya stigma bahwa domain teknologi merupakan domain laki-laki. BPS mencatat perempuan berijazah pendidikan tinggi di bidang STEM tahun 2020 hanya 29%[4] sedangkan pada 2017 data BPS menunjukkan hanya 30% perempuan yang bekerja di bidang STEM.[5]
Realitas ini tentu semakin menghambat akses perempuan dalam adopsi dan eksploitasi teknologi yang dapat membatasi peran perempuan di era digital.
Signifikansi Peran Perempuan di Era Digital
Perempuan telah berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional melalui agility dalam menggerakan roda perekonomian keluarga. Sektor UMKM yang berkontribusi terhadap 60 persen pendapatan nasional di Indonesia dan menjadi tulang punggung perekonomian di masa krisis pandemi, sekitar 64 persen dari 64 juta UMKM digerakkan oleh perempuan.[6]
Tak cukup sampai disitu, perempuan juga berdaya dalam wadah koperasi dimana jumlah Koperasi Wanita aktif sebanyak 11.199 koperasi di seluruh Indonesia dengan modal usaha kumulatif lebih dari Rp2 triliun dan volume usaha mencapai Rp2,4 triliun serta mampu menyerap 663 ribu perempuan sebagai anggota.[7]
Di era digital, perempuan mulai menunjukkan kapasitasnya dengan mengembangkan Female Technology (femtech). Sejumlah perusahaan rintisan yang dipimpin perempuan berpotensi untuk terus tumbuh dan berkembang, DailySocial mencatat sedikitnya terdapat 12 startup dengan pendiri atau jajaran C-Level perempuan telah mengantongi pendanaan sepanjang tahun 2019, dan tak hanya menyasar kebutuhan kalangan perempuan namun juga menyediakan teknologi SaaS, healthtech, hingga social commerce.[8] Riset Frost & Sullivan bahkan menyebutkan bahwa femtech secara global bisa menjadi pasar bernilai $50 miliar pada tahun 2025.[9]
Besarnya jumlah UMKM, Koperasi Wanita, dan perusahaan rintisan yang diprakarsai oleh perempuan dapat dioptimalisasi melalui keandalan teknologi untuk menciptakan berbagai peluang baru. Namun hal ini sekaligus menuntut peningkatan kecakapan digital perempuan sebagai bekal menghadapi arus digitalisasi yang semakin pesat.
Terlebih saat ini perempuan Indonesia masih dihadapkan dengan sejumlah persoalan terkait akses dan pemanfaatan teknologi. Pada titik ini, transformasi digital inklusif menjadi strategi untuk menjawab tantangan dan tuntutan yang membayangi perempuan di era digital.

