Banyak perusahaan rintisan (startup) yang berjamur seiring perkembangan era digital, dan dipercepat juga dengan akseptasi digitalisasi ketika pandemi Covid-19 terjadi. Startup digital menjadi primadona generasi muda untuk memulai berkarier, sebab menjanjikan kesempatan dan peluang untuk berkembang dengan cepat. Mengusung konsep bekerja dengan santai tanpa seragam dan sekat pada meja kerja menjadikan startup tujuan generasi muda untuk meraih masa depannya.
Tapi siapa yang tahu keberlanjutan bisnis startup bisa bertahan berapa lama? Nyatanya banyak perusahaan rintisan di berbagai negara mengalami kegagalan dan berakhir gulung tikar meski mendapatkan suntikan modal yang besar. Ada beberapa alasan mengapa startup yang berbasis teknologi bisa berakhir gagal, termasuk persoalan finansial (cashflow), kurangnya kolaborasi antar tim, kegiatan pemasaran yang tidak efektif, hingga tidak sempurnanya proses product market fit (PMV).
Dalam sebuah riset yang dirangkum Failory, terdapat 9 dari 10 startup gagal. Selain itu, 7,5 dari 10 startup yang didukung perusahaan modal ventura gagal, serta 2 dari 10 bisnis baru gagal di tahun pertama beroperasi.[1] Terdapat enam alasan yang menjadi masalah utama gagalnya startup. Pertama, masalah pemasaran (56%). Kesalahan pemasaran adalah penyebab utama, dan masalah terbesar sejauh ini adalah kurangnya kesesuaian antara produk dan pasar. Oleh sebab itu, jangan menginvestasikan banyak waktu dan sumber daya sebelum yakin orang-orang menginginkan apa yang ditawarkan startup.
Kedua, masalah tim (18%). Seperti kurangnya pengetahuan domain, pengetahuan pemasaran dan rencana, kurang pengetahuan teknis, dan kurangnya pengetahuan bisnis, adalah pembunuh terbesar. Ketiga, masalah keuangan (16%). Lebih dari 50% pendiri startup tidak memiliki anggaran untuk proyeknya, dan 75% didanai sendiri, namun hanya 16% yang menunjukkan masalah keuangan sebagai alasan kegagalan startup.
Keempat adalah masalah teknologi (6%), jarang menjadi penyebab utama meskipun sebagian besar startup memiliki beberapa jenis teknologi. Adapun, kesalahan terbesar adalah investasi berlebihan pada teknologi yang mahal ketika tahap pengembangan, sebelum asumsi pemasaran divalidasi. Alasan kelima yaitu masalah operasi (2%). Terakhir, masalah hukum (2%) yang sangat jarang menjadi alasan kegagalan.
Berdasarkan laporan CBInsight, terdapat 11 startup gagal walaupun memiliki modal besar.[2] Hal ini mengindikasikan bahwa suntikan modal yang besar tidak menjamin bisnis startup bisa berkelanjutan. Beberapa startup tersebut antara lain, Solyndra didirikan pada 2005 dan gulung tikar pada 2011 dengan memiliki total modal US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 17 triliun.
Kemudian, Coda Automotive yang berdiri sejak 2009 dan bangkrut pada 2013, total funding yang dimiliki senilai US$ 612 juta setara Rp 9 triliun. Lalu, Quirky yang didirikan sejak 2009 memiliki total pendanaan US$ 185 juta setara Rp 2,7 triliun, namun berakhir gagal pada 2015.
Berikutnya, Munchery yang hanya bertahan tujuh tahun sejak 2011 dan tutup pada 2018, meskipun memiliki total pendanaan US$ 117 juta setara Rp 1,7 triliun, memiliki banyak uang bisa menjadi hal yang buruk, karena tetap saja startup ini tidak bisa berumur panjang. Kelangsungan hidup startup seringkali tergantung pada ukuran pasar potensial. Namun, bahkan pasar yang tumbuh dan menguntungkan dengan permintaan konsumen yang kuat bukanlah jaminan kesuksesan di masa depan, seperti yang ditemukan oleh layanan pengiriman makanan yang tidak berfungsi, Munchery.
Startup makanan yang berbasis di San Francisco ini didirikan di atas premis yang unik: menu hidangan kelas atas yang selalu berubah-ubah yang disiapkan oleh koki profesional dan dikirim langsung ke rumah anggota. Namun, bahkan proposisi nilai yang unik dan menarik tidak dapat menyelamatkan perusahaan yang mengejar rencana pertumbuhan yang terlalu ambisius tanpa pemahaman yang jelas tentang bagaimana ia akan bersaing di pasar yang ramai.
Serta, ada Julep startup merek kecantikan yang didirikan pada 2007 memiliki pendanaan US$ 60 juta setara Rp 880 miliar, namun gulung tikar pada 2018. Hal ini karena merger dan akuisisi tidak menjamin sinergi. Startup berikutnya adalah Nasty Gal yang mengalami kegagalan dalam 10 tahun, mulai dari 2006 hingga 2016 dengan pendanaan US$ 65 juta. Kegagalan tersebut terjadi karena menerapkan model hiper-pertumbuhan ke ritel fisik itu sulit.

