Pemerintahan | Kepentingan Publik

Pembelian Bahan Bakar melalui Aplikasi: Bisakah Jadi Inklusif?

Wulida Tsania / Amelinda Pandu 6 Jun 2022. 4 min.

Pemerintah kembali meluncurkan program baru untuk menanggapi permasalahan distribusi BBM bersubsidi yaitu penggunaan aplikasi MyPertamina untuk setiap pembelian Pertalite. Keuntungan berupa transparansi data dan efisiensi distribusi dinilai tidak sebanding dengan inklusivitas dan permasalahan technology gap kebijakan ini, sehingga banyak protes yang dilayangkan di berbagai media sosial. 

Masyarakat dapat mendownload aplikasi MyPertamina di App Store atau Play Store dan membuat akun dengan melakukan verifikasi melalui nomor telepon dan mengisi data diri dengan beberapa dokumen antara lain KTP, STNK, NPWP, foto kendaraan, dan nomor polisi kendaraan. Setelah berhasil login, masyarakat dapat langsung mengaktifkan e-wallet LinkAja sebagai alat pembayaran cashless dan melakukan pembayaran melalui kode QR di pom bensin terdekat.[1]

Pro dan Kontra

Kebijakan ini memancing kritik negatif dari masyarakat karena keraguan terhadap inklusivitas program ini. Masyarakat Indonesia memang memiliki 370.1 juta perangkat seluler[2] dan 204.7 juta pengguna internet pada tahun 2022.[3] Namun pertumbuhan tersebut tidak representatif jika dilihat dari perspektif pemerataan. Pulau Jawa adalah pulau dengan 43,92% penduduknya terpapar internet. Sedangkan di daerah timur seperti Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara memiliki penetrasi internet tidak lebih dari 2%. Angka penetrasi internet Indonesia juga cukup rendah (73.7%)[4] jika dibandingkan dengan Malaysia (89.6%)[5], Singapura (92%)[6], dan Thailand (77%)[7]. 

Setiap data digital yang terekam di aplikasi akan membentuk data yang terintegrasi dan meningkatkan transparansi distribusi komoditas yang akhir-akhir ini menjadi masalah serius di Indonesia.

Penggunaan BBM bersubsidi di Indonesia dibatasi kuota dan segmentasinya hanya untuk masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah, sebagaimana tertera dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 tahun 2014 dan Surat Keputusan (SK) BPH Migas nomor 4 tahun 2020. Namun menurut Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), terdapat lebih dari 240.000 liter pelanggaran penyaluran BBM bersubsidi oleh SPBU di Indonesia selama Januari-Mei 2022.[8] Selain itu, seringkali terjadi antrian panjang BBM bersubsidi di beberapa daerah akibat distribusi yang tidak merata. Sejak Pertamina mengumumkan kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp 9.000 menjadi Rp 12.500 per liter pada awal April 2022, permintaan masyarakat terhadap BBM bersubsidi (Pertalite) meningkat drastis.[9]

Terlepas dari pro dan kontra yang bergejolak di masyarakat, kebijakan ini memiliki banyak keuntungan terkait dengan manajemen distribusi bahan bakar. Setiap data digital yang terekam di aplikasi akan membentuk data yang terintegrasi dan meningkatkan transparansi distribusi komoditas yang akhir-akhir ini menjadi masalah serius di Indonesia. Selain itu, data yang terekam bisa menjadi pedoman yang akurat bagi para pemerintah untuk merumuskan kebijakan dan program untuk komoditas terkait. 

Digitalisasi di Negara Lain

Kebijakan digitalisasi distribusi komoditas bukannya tidak mungkin diimplementasikan di Indonesia berkaca dari pengalaman dari negara lain. Adopsi pembayaran digital telah dilakukan beberapa negara selama 2-3 tahun terakhir dan menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Di Korea Selatan, GS Caltex (perusahaan penyulingan utama di Korea Selatan) memperkenalkan layanan pembayaran digital online dengan menerima pembayaran kode QR mulai November 2020 dari e-wallet terbesar di Korea yaitu Kakao Pay, Naver Pay, PAYCO, dan Zero Pay.[10] Pada tahun 2021, teknologi ini telah diimplementasikan di 1.450 pom bensin di Korea.

Di Malaysia juga telah memperkenalkan e-payment melalui kerjasama antara Petronas (perusahaan minyak terbesar di Malaysia) dan Setel (aplikasi e-payment) sejak awal 2020.[11] Sekarang adopsi digital ini telah diterapkan di lebih dari 1.000 pom bensin Petronas di seluruh Malaysia dengan menerima pembayaran melalui kode QR e-wallet dan kartu kredit. 

Kunci output dari inovasi adalah penerimaan dan kemudahan untuk masyarakat. Maka banyaknya keuntungan dari skema inovasi ini sebaiknya diperkaya dengan kerjasama yang lebih luas dan solusi untuk berbagai segmen masyarakat. Namun pemerintah juga harus mempertimbangkan strategi yang harus dilakukan untuk mengantisipasi isu yang dihasilkan dari kebijakan ini. Antara lain isu aksesibilitas dan isu perlindungan data.

Pertama, pemerintah dapat menjalankan program secara bertahap untuk segmen masyarakat yang melek digital terlebih dahulu. Kemudian pemerintah secara bersamaan bekerjasama dengan stakeholder terkait meningkatkan literasi digital untuk segmen yang tidak memungkinkan untuk menerima program MyPertamina.

Kedua, pemerintah dapat memperbaharui  sistem data yang digunakan dalam aplikasi MyPertamina dengan enkripsi end-to-end atau sistem keamanan data lainnya yang menjamin perlindungan hak privasi pengguna dan mencegah adanya pelanggaran keamanan siber. Kemudian melaksanakan sosialisasi untuk membuat masyarakat mengetahui sistemnya serta membuat mereka merasakan customer experience yang aman. 

Referensi

[1] Suara.com. (2022). Dibuka Hari Ini 2 Cara Daftar MyPertamina untuk Beli Pertalite dan Solar. https://www.suara.com/news/2022/07/01/104453/dibuka-hari-ini-2-cara-daftar-mypertamina-untuk-beli-pertalite-dan-solar 

[2] Suara.com. (2022). Jumlah Perangkat Seluler di Indonesia Capai 370,1 juta pada 2022. https://www.suara.com/tekno/2022/02/21/165644/jumlah-perangkat-seluler-di-indonesia-capai-3701-juta-pada-2022

[3] TiNewss.com. (2022). Penggunaan Internet di Indonesia pada Tahun 2022. https://www.tinewss.com/indonesia-news/pr-1853617768/penggunaan-internet-di-indonesia-pada-tahun-2022

[4] Katadata. (2022). APJII: Penetrasi Internet Indonesia Capai 77.02% pada 2022. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/06/10/apjii-penetrasi-internet-indonesia-capai-7702-pada-2022 

[5] Data Reportal. (2022). Digital 2022: Malaysia. https://datareportal.com/reports/digital-2022-malaysia 

[6] Data Reportal. (2022). Digital 2022: Singapore. https://datareportal.com/reports/digital-2022-singapore 

[7] Data Reportal. (2022). Digital 2022:Thailand. https://datareportal.com/reports/digital-2022-thailand  

[8] Katadata. (2022). Mulai 1 Juli Beli Pertalite Wajib Daftar Aplikasi MyPertamina. https://katadata.co.id/syahrizalsidik/berita/62b9b4d4b103e/mulai-1-juli-beli-pertalite-wajib-daftar-aplikasi-mypertamina 

[9] Media Indonesia. (2022). Soal Kelangkaan BBM: Luhut Akui Ada Masalah Distribusi. https://mediaindonesia.com/ekonomi/485321/soal-kelangkaan-bbm-luhut-akui-ada-masalah-distribusi 

[10] Aju Business Daily. (2020). GS Caltex Adopts Digital Payment at Gas Stations to Simplify Payment. https://www.ajudaily.com/view/20201102095054697 

[11] F+L Daily. (2020). E-payment Solution Now Available at Petronas’ Stations Nationwide. https://www.fuelsandlubes.com/e-payment-solution-petronas-stations-nationwide/ 

DigitalisasiPembayaranKomoditasBahan bakar

Bagikan artikel ini:

← Kembali ke semua artikel

Artikel Terbaru