Sektor pendidikan merupakan salah satu yang terdampak pandemi Covid-19 dan mengalami perubahan. Adopsi teknologi digital saat ini telah diterapkan sektor pendidikan untuk memastikan pelajar mendapatkan pengetahuan yang berkualitas, meski masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah. Perubahan tersebut melahirkan inovasi pendidikan berbasis teknologi (education technology/edtech) yang ternyata memiliki potensi besar dalam bisnis ke depan.
Edtech menjadi salah satu kategori startup yang berkembang pesat di Indonesia. Banyak di antaranya menyasar kalangan pelajar, institusi, namun tidak sedikit juga yang memberikan opsi kepada para profesional dan masyarakat umum untuk mendapatkan konten belajar berkualitas. Pangsa pasar yang semakin matang membuat beberapa pemain edtech dari luar negeri turut menjadikan Indonesia sebagai negara ekspansi untuk bisnisnya.
Terdapat beberapa jenis layanan yang ditawarkan edtech di Indonesia. Pertama adalah e-learning, layanan yang menyajikan materi pembelajaran secara online. Beberapa menyajikannya melalui konten interaktif, dan online live tutoring. Adapun, startup edtech di bidang banyak dikenal karena berhubungan langsung dengan pelajar, yakni RuangGuru, Zenius, Arkademi, Bensmart, CodeSaya, Vokraf, dan Bahaso.
Kedua, jenis Learning Management System (LMS), didesain untuk membantu merencanakan kegiatan pembelajaran, berbeda dengan jenis e-learning. Berikutnya adalah jenis edtech Software as a Services (SaaS), yakni startup yang membantu lembaga pendidikan melakukan transformasi dengan mendigitalkan proses bisnis di dalamnya, seperti terkait tata kelola perpustakaan, administrasi, presensi, dan sebagainya.[1]
Tantangan Edtech
Meski jumlah pengguna internet di Indonesia besar mencapai 204,7 juta per Januari 2022[2], masih terdapat gap dari sisi infrastruktur jaringan internet, utamanya di luar kota-kota besar. Dalam kurun waktu sebentar, para pengajar, orang tua, hingga pelajar diharuskan memahami penggunaan teknologi untuk mengikuti pelajaran selama masa pembelajaran jarak jauh akibat pandemi Covid-19, seperti lewat aplikasi Zoom, Google Meet, hingga Webex.
Minimnya informasi mengenai tata cara penggunaan aplikasi video tersebut tak sedikit membuat orang tua kalang kabut, karena selain harus bekerja dari rumah juga sembari menemani anaknya belajar secara daring. Di sejumlah negara di Asia Tenggara, memang masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Di waktu yang sama, masyarakat juga menemui berbagai kendala untuk mengakses pendidikan yang berkualitas. Mulai dari ketidaksetaraan sumber daya, letak geografis hingga kurikulum yang kurang memadai.[3] Di samping itu, kurikulum pendidikan dasar adalah sebab utama Indonesia selalu mendapat peringkat rendah dalam survei kinerja siswa.
The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengumumkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018. Dalam survei itu, siswa Indonesia berada di jajaran nilai terendah terhadap pengukuran membaca, matematika, dan sains. Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371, turun dari peringkat 64 pada tahun 2015.[4]
Dengan menjamurnya startup education technology yang memiliki kurikulum lebih baik, diharapkan dapat mendorong kualitas siswa Indonesia pada survei selanjutnya. Meski begitu, startup edtech di Asia Tenggara masih menghadapi dua permasalahan dasar. Pertama, bagaimana melakukan percepatan dalam membangun bisnis. Kedua, mencari tahu bagaimana siswa bisa mempelajari konten berkualitas serta mendapatkan pemahaman yang mendalam. Ditambah lagi, di Indonesia telah mengizinkan dibukanya kembali sekolah dan perguruan tinggi mulai paruh kedua 2021.
Investasi untuk edtech di Indonesia diperkirakan akan meningkat, bagaimana sektor ini tumbuh akan tergantung pada permintaan dan preferensi konsumen, serta tindakan pemerintah dan sektor swasta. Apakah Indonesia memiliki sektor edtech yang berfokus pada peningkatan pembelajaran siswa untuk semua, atau hanya untuk mereka yang memiliki konektivitas dan kemampuan untuk membayar, akan bergantung pada pilihan yang dibuat di tahun-tahun mendatang. Tidak semua investasi edtech akan meningkatkan pembelajaran siswa.