Ekonomi | Industri dan Startup

Berebut Pasar Pendidikan Lewat Edtech

Nida / Nida 12 Jun 2022. 7 min.

Sektor pendidikan merupakan salah satu yang terdampak pandemi Covid-19 dan mengalami perubahan. Adopsi teknologi digital saat ini telah diterapkan sektor pendidikan untuk memastikan pelajar mendapatkan pengetahuan yang berkualitas, meski masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah. Perubahan tersebut melahirkan inovasi pendidikan berbasis teknologi (education technology/edtech) yang ternyata memiliki potensi besar dalam bisnis ke depan.

Edtech menjadi salah satu kategori startup yang berkembang pesat di Indonesia. Banyak di antaranya menyasar kalangan pelajar, institusi, namun tidak sedikit juga yang memberikan opsi kepada para profesional dan masyarakat umum untuk mendapatkan konten belajar berkualitas. Pangsa pasar yang semakin matang membuat beberapa pemain edtech dari luar negeri turut menjadikan Indonesia sebagai negara ekspansi untuk bisnisnya. 

Terdapat beberapa jenis layanan yang ditawarkan edtech di Indonesia. Pertama adalah e-learning, layanan yang menyajikan materi pembelajaran secara online. Beberapa menyajikannya melalui konten interaktif, dan online live tutoring. Adapun, startup edtech di bidang banyak dikenal karena berhubungan langsung dengan pelajar, yakni RuangGuru, Zenius, Arkademi, Bensmart, CodeSaya, Vokraf, dan Bahaso.

Kedua, jenis Learning Management System (LMS), didesain untuk membantu merencanakan kegiatan pembelajaran, berbeda dengan jenis e-learning. Berikutnya adalah jenis edtech Software as a Services (SaaS),  yakni startup yang membantu lembaga pendidikan melakukan transformasi dengan mendigitalkan proses bisnis di dalamnya, seperti terkait tata kelola perpustakaan, administrasi, presensi, dan sebagainya.[1]

 

Tantangan Edtech

Meski jumlah pengguna internet di Indonesia besar mencapai 204,7 juta per Januari 2022[2], masih terdapat gap dari sisi infrastruktur jaringan internet, utamanya di luar kota-kota besar. Dalam kurun waktu sebentar, para pengajar, orang tua, hingga pelajar diharuskan memahami penggunaan teknologi untuk mengikuti pelajaran selama masa pembelajaran jarak jauh akibat pandemi Covid-19, seperti lewat aplikasi Zoom, Google Meet, hingga Webex. 

Minimnya informasi mengenai tata cara penggunaan aplikasi video tersebut tak sedikit membuat orang tua kalang kabut, karena selain harus bekerja dari rumah juga sembari menemani anaknya belajar secara daring. Di sejumlah negara di Asia Tenggara, memang masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Di waktu yang sama, masyarakat juga menemui berbagai kendala untuk mengakses pendidikan yang berkualitas. Mulai dari ketidaksetaraan sumber daya, letak geografis hingga kurikulum yang kurang memadai.[3] Di samping itu, kurikulum pendidikan dasar adalah sebab utama Indonesia selalu mendapat peringkat rendah dalam survei kinerja siswa.

The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mengumumkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018. Dalam survei itu, siswa Indonesia berada di jajaran nilai terendah terhadap pengukuran membaca, matematika, dan sains. Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371, turun dari peringkat 64 pada tahun 2015.[4]

Dengan menjamurnya startup education technology yang memiliki kurikulum lebih baik, diharapkan dapat mendorong kualitas siswa Indonesia pada survei selanjutnya. Meski begitu, startup edtech di Asia Tenggara masih menghadapi dua permasalahan dasar. Pertama, bagaimana melakukan percepatan dalam membangun bisnis. Kedua, mencari tahu bagaimana siswa bisa mempelajari konten berkualitas serta mendapatkan pemahaman yang mendalam. Ditambah lagi, di Indonesia telah mengizinkan dibukanya kembali sekolah dan perguruan tinggi mulai paruh kedua 2021.

Investasi untuk edtech di Indonesia diperkirakan akan meningkat, bagaimana sektor ini tumbuh akan tergantung pada permintaan dan preferensi konsumen, serta tindakan pemerintah dan sektor swasta. Apakah Indonesia memiliki sektor edtech yang berfokus pada peningkatan pembelajaran siswa untuk semua, atau hanya untuk mereka yang memiliki konektivitas dan kemampuan untuk membayar, akan bergantung pada pilihan yang dibuat di tahun-tahun mendatang. Tidak semua investasi edtech akan meningkatkan pembelajaran siswa.

 

Dengan lebih dari 68 juta siswa di seluruh negeri tidak dapat bersekolah, perusahaan edtech memperkenalkan program baru untuk membantu lebih banyak siswa melanjutkan pendidikan mereka.

Potensi Edtech

Dampak krisis Covid-19 berdampak negatif pada sebagian besar sektor ekonomi, sementara sektor edtech dan healthtech mengalami beberapa dampak positif. Keengganan untuk mengadopsi teknologi di antara beberapa lembaga pendidikan, guru dan orang tua telah dibalik saat pandemi Covid-19, karena banyak yang sekarang bergantung pada pendidikan online dan jarak jauh untuk pembelajaran siswa. Diharapkan pandemi mempercepat adopsi metode pembelajaran online untuk mensosialisasikan pendidikan dan mendorong lembaga pendidikan untuk mengadopsi metode pembelajaran jarak jauh untuk meningkatkan ketahanan dalam krisis di masa depan. 

Sifat penutupan sekolah yang cepat di Indonesia membuat sebagian besar perpindahan ke pembelajaran jarak jauh tidak direncanakan, dan tantangan serta kekurangan sektor ini telah diperlihatkan kepada orang tua dan guru, serta siswa. Kebutuhan untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan pembelajaran siswa akan menyediakan arena peluang tinggi bagi para pemain edtech untuk membuktikan nilai mereka dan mendukung institusi pendidikan tradisional dalam penyampaian pendidikan online. Jarak sosial dan penutupan sekolah telah mendorong peningkatan minat pada program online yang ditawarkan oleh penyedia pendidikan secara global. 

Dengan lebih dari 68 juta siswa di seluruh negeri tidak dapat bersekolah, perusahaan edtech memperkenalkan program baru untuk membantu lebih banyak siswa melanjutkan pendidikan mereka. Kemendikbud berkoordinasi dengan pemain edtech seperti Zenius, Quipper School, dan Ruangguru untuk menawarkan program dan layanan gratis, seperti saluran pengajaran langsung, bank soal, ujian praktik online, video instruksi, dan lainnya untuk membantu siswa melanjutkan pendidikan dari rumah.[5]

Dengan besarnya potensi edtech ke depan, pemerintah Indonesia harus menetapkan standar privasi dan keamanan data terkait produk edtech. Ini telah menjadi masalah utama di negara lain, khususnya Amerika Serikat. Di samping itu, perusahaan education technology dapat bermitra dengan akademisi dan pemerintah untuk menetapkan standar yang jelas untuk kinerja dan efektivitas biaya, dan untuk mengevaluasi secara transparan dan ketat beberapa produk terkemuka saat ini.

Referensi

[1] Kompas (2022). Evaluasi Bisnis Edutech Solusi Pendidikan Inklusif. https://money.kompas.com/read/2022/01/02/093400426/evaluasi-bisnis-edutech-solusi-pendidikan-inklusif-di-indonesia?page=all

[2]  Katadata (2022). https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/03/23/ada-2047-juta-pengguna-internet-di-indonesia-awal-202

[3] The Asean Post (2018) Nurturing The Future Workforce of Asean Through Education. https://theaseanpost.com/article/nurturing-future-workforce-asean-through-education

[4] OECD (2018). The Programme for International Student Assessment (PISA). https://www.oecd.org/pisa/publications/PISA2018_CN_IDN.pdf

[5]  World Bank (2020). Edtech in Indonesia - Ready for Take-Off?https://documents1.worldbank.org/curated/en/535881589465343528/pdf/EdTech-in-Indonesia-Ready-for-Take-off.pdf

edtecheducation technologye-learningsekolah online

Bagikan artikel ini:

← Kembali ke semua artikel

Artikel Terbaru